Minggu, 03 April 2011

Upacara Tradisi Beka

Latar Belakang

Terjadinya akulturasi terhadap kebudayaan asli dengan agama islam. Para remaja masa kini berpendapat bahwa kebudayaan tersebut bersifat kuno dan mistic, hal tersebut menyebabkan kurangnya minat dari para remaja terhadap kebudayaan-kebudayaan warisan nenek moyang ini. Akibatnya mereka kurang memahami tentang kebudayaan asli. Sehingga kebudayaan asli pun sedikit yang memahami. Hanya orang-orang tertentu saja yang faham kebudayaan ini.
Sebenarnya untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara agama ( termasuk Islam ) dengan budaya, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini : mengapa manusia cenderung memelihara kebudayaan, dari manakah desakan yang menggerakkan manusia untuk berkarya, berpikir dan bertindak ? Apakah yang mendorong mereka untuk selalu merubah alam dan lingkungan ini menjadi lebih baik ?
Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya merupakan dinamika ilahi. sistem pengetahuan yang digunakan untuk menafsirkan berbagai gejala serta simbol-simbol agama. Pemahaman manusia sangat terbatas dan tidak mampu mencapai hakekat dari ayat-ayat dalam kitab suci masing- masing agama. Mereka hanya dapat menafsirkan ayat-ayat suci tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada. Di sinilah, kami memaparkan “TRADISI BEKAKAK” bagaimana tradisi tersebut dilaksanakan, agar masyarakat luar mengetahuinya.


PEMBAHASAN
A. ASAL USUL BEKAKAK
Bekakak disebut juga saparan bekakak. Disebut saparan karena pelaksanaan upacara bekak jatuh atau berkaitan dengan bulan Sapar. Kata Saparan berasal dari kata sapar (bulan arab) dan akhiran-an berasal dari upacara selametan yang diadakan setiap bulan Sapar. Saparan ini hanya tiruan.
Bekakak berati korban penyembelihan manusia atau hewan. hanya saja, bekakak yang disembelih zaman sekarang hanya tepung ketan yang dibentuk seperti pengantin laki-laki dan perempuan yang sedang duduk bersilah.
Sebelum diarak untuk disembelih, pada malam sebelumnya diadakan upacara midodareni layaknya pengantin sejati. Menurut kepercayaan masyarakat, pada malam menjelang perkawinan, para bidadari turun ke bumi untuk memberi restu. Orang-orang begadang suntuk demi menyambut kedatangan para bidadari tersebut.
Pada siang harinya, ”pengantin diarak dari Balai Desa Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta , menuju ke Gunung Gamping. Ini adalah tempat Kyai Wirasuta dan Nyai wirasuta, abdi dalem Sri Sultan HB 1, yang hilang tanpa bekas.
Kyai Wirasuta adalah abdi dalem penongsong , abdi dalem pembawa payung ketika Sri Sultan HB1 bepergian . Ketika Sultan pindah dari Ambarketawang ke keraton yang baru, abdi dalem ini tidak ikut pindah dan tetap tinggal di Gampingan. Ia menjadi cikal-bakal penduduk disana . Ia tinggal didalam gua dibawah Gunung Gamping tersebut.
Pada hari Jumat Kliwon sekitar tanggal 10-15 bulan sapar, menjelang purnama terjadi musibah yang menimpa Kyai Wirasuta sekeluarga. Tiba-tiba gunung gamping yang didiami runtuh. Kyai Wirasuta sekeluarga beserta hewan kesayangannya berupa Landak, gemak, dan merpati terkubur oleh reruntuhan.
Sri Sultan HB 1 segera menitahkan kepada para prajuritnya untuk mencari jenazah mereka, akan tetapi jenazah kyai wirosuto dan Nyai wirosuto tidak ditemukan. Maka Sri Sultan memerintahkan kepada abdi dalem keraton supaya setahun sekali, setiap bulan Sapar antara tanggal 10-20 untuk membuat selamatan dan ziarah di desa ambarketawang tepatnya di Gunung Gamping, dengan tujuan untuk mengenang jasa dan kesetiaan Ki Wirasuta sebagai abdi dalem yang loyal sampai akhir hayatnya.
Penyembelihan bekakak dimaksudkan sebagai bentuk pengorbanan untuk para arwah atau danyang-danyang penunggu Gunung Gamping. Dengan tujuan agar mereka tidak mengambil korban manusia, sekaligus berkenan memberikan keselamatan kepada masyarakat yang menambang batu gamping di sana. Karena kebanyakan masyarakat disana mencari nafkah dengan cara menambang batu. Dan inilah photo upacara tradisi bekakak tahun 2009.

Jogjakarta memang menyimpan beragam khasanah kebudayaan, yang mungkin masih jarang diketahui oleh para penduduk luar Jogja. meskipun penduduk Jogja masih banyak yang awam tentang keanekaragaman budaya yang ada karena sebagian dari mereka adalah para pendatang. Salah satu kekayaan budaya yang gaungnya masih kalah menggema dibandingkan grebeg mulud, yaitu upacara Saparan atau dikenal pula dengan sebutan Kirab Bekakak.


Kirab bekakak yang diadakan setiap tahun di Gamping, Sleman ini sejatinya masuk dalam kalender pariwisata pemerintah Kabupaten Sleman dan pemerintah Provinsi DIY. Namun entah karena lokasi pelaksanaannya yang jauh dari pusat kota, atau lantaran faktor yang lain, acara yang satu ini memang jauh kemeriahannya dibandingkan grebeg mulud atau sekatenan. Acara ini sendiri diadakan tiap hari Jum’at, minggu ke tiga bulan Sapar (nama bulan dalam penanggalan Islam). Kenyataannya, kirab bekakak ini tidak kalah menarik untuk dinikmati dan diikuti.






Dalam setiap penyelenggaraannya, rute Kirab diawali dari Balai Desa Ambarketawang, berjalan menuju Pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di Gunung Gamping. Dalam Kirab tersebut diaraklah dua pasang boneka penganten, disebut pula bekakak, yang dibuat dari tepung beras ketan yang diisi juruh atau gula merah yang dicairkan. Selain arakan bekakak, Kirab juga diikuti oleh brigade prajurit serta rombongan berbagai macam kesenian tradisional. Sesampainya di Pesanggarahan, penganten atau bekakak tersebut disembelih hingga keluar juruhnya, dan makanan yang ada dijodang kemudian disebarkan ke arah pengunjung.
Para pengunjung selalu dengan rela menunggu sambil berdesak - desakan untuk mendapatkan bagian dari bekakak tersebut. Mereka percaya, walaupun sedikit, tubuh bekakak yang terbuat dari ketan itu bisa mendatangkan berkah bagi mereka yang berhasil mendapatkannya. Tradisi seperti ini memang masih melekat pada sebagian masyarakat Jawa pada umumnya dan Jogja pada
khususnya. Orang menyebutnya ngalap berkah. Adapun cerita di balik penyelenggaraan kirab bekakak ini dipercaya berawal dari meninggalnya Ki Wirosuto bersama keluarganya akibat runtuhnya Gunung Gamping. Ki Wirosuto sendiri adalah abdi Raja Mataram.
Sultan Hamengkubuwono I. Upacara Saparan ini merupakan perintah dari Sultan kepada Demang Gamping untuk mengadakan selamatan dengan membuat sepasang boneka yang terbuat dari tepung beras ketan berisikan gula merah cair. Boneka tersebut harus disembelih sebagai simbolisasi pengorbanan Ki Wirosuto.
Adapula cerita lain yang menyebutkan bahwa tradisi ini ditujukan pula untuk keselamatan bagi penduduk setempat yang pada umumnya berprofesi sebagai pengambil kapur gamping. Konon dahulu banyak orang yang tergelincir dan meninggal saat mengambil gamping. Dan anehnya kecelakaan yang merenggut nyawa itu selalu terjadi pada bulan Sapar. Oleh karena itu dengan diadakannya tardisi Saparan, warga setempat percaya bahwa tradisi ini sanggup memberikan kedamaian serta ketentraman bagi mereka. Dengan menjaga dan melestarikan tradisi ini, segala kesialan dan mara bahaya dipercaya bisa menjauh dari masyarakat setempat.

Peran sesajen dalam usungan kirab yaitu sebagai simbol membina hubungan batiniah yang harmonis antara manusia, Tuhan, dan semesta.Setiap kirab selalu diawali penyerahan patung bekakak kepada perangkat desa setempat. Sekaligus penyerahan air suci Tirto Donojari dan Tirto Mayangsari yang diambil dari sumber air di lokasi bekas Keraton Ambarketawang.Dan, kirab selanjutnya bergerak menuju Gunung Gamping dan Gunung Killing yang berjarak 4 kilometer dari lapangan Ambarketawang. Sampai di sana sepasang bekakak akhirnya disembelih.
Buat Masyarakat jogja, perayaan Sapar-an Bekakak selalu berkembang sesuai zaman. Semula fungsinya sebagai tanda syukur atas jasa kesetiaan Kiai Wiro-suto sekeluarga kepada raja. Belakangan tradisi itu sedikit bergeser menjadi sarana tolak bala agar masyarakat yang mencari batu gamping terbebas dari malapetaka.Pada masa kini, upacara tradisional dengan menyembelih sepasang bekakak akhirnya menjadi produk pariwisata.Adat seperti Saparan Bekakak ialah satu dari sekian banyak kekayaan budaya yang ada di Yogyakarta .
B.Tahap-tahap dilaksanakannya upacara bekakak
Upacara bekakak ini dilaksanakan dengan empat tahap, diantaranya:
1. Tahap Midodareni Bekakak
2. Tahap Kirab
3. Tahap Nyembelih Pengantian Bekakak
4. Tahap Sugeng Ageng
Sebelum acara dilaksanakan, ada semacam mujahadahan yang dipimpin oleh sesepuh dari desa ambarketawang lalu dilaksanakanlah dengan arak-arakan peserta kirab dari berbagai “bregada” (prajurit),20 pasukan berkuda,4 pasukan bergajah, 2 bekakak, dan itu dimulai dari halaman balai desa Ambarketawang menuju Gunung Gamping yang berjarak 5 km, pada hari kamis mulai jam 20.00 dalam bentuk Midodareni serta pagelaran wayang kulit.
Puncak acaranya berupa kirab bekakak pada hari jum’at di desa Ambarketawang, kirab diawali upacara resmi yang dimeriahkan pertunjukkan tari gambyong(dahulu) dan kalau sekarang dengan (tahlilan,isthighosah) agar diwaktu mendatang lebih baik dari pada dulu.
Peserta kirab dibagi menjadi 3:
@ pra kitab: peserta peleton inti & drum band
@ kirab adat: manggalayuda (pemimpin) kirab, 4 (pasukan bergajah), 20 (pasukan berkuda), 2 bekakak
@ kirab penggembira: kesenian yang beraneka ragam,misalnya: tarian-tarian, dll.
C.Nilai Norma-norma dalam upacara bekakak
Proses terbentuknya sistem keagamaan pada masyarakat yang belum mengenal tulisan, berawal dari munculnya emosi keagamaan sehingga mempengaruhi manusia untuk melakukan aktifitas-aktifitas ritual. Dengan memiliki emosi keagamaan itu segala sesuatu yang tidak berarti, memiliki nilai keramat.


KESIMPULAN
Upacara Bekakak dilaksanakan pada minggu ke 3 dibulan sapar dan mulai hari kamis jam 20.00, sampai hari jum’at pada waktu nyembelih bekakak pada jam 16.00, bekakak terbuat dari ketan dan gula jawa, acara tersebut dilaksanakan guna mengenang jasa ki wirosuto dan nyi wirosuto yang mengabdi kepada sri sultan sampai meningga. Lalu sultan mengatakan kepada abdi dalemnya untuk mengadakan selamatan setiap tahun pada bulan sapar, tepatnya tanggal 10-20 bulan sapar.
Upacara diadakan atas perintah Pangeran Mangkubumi, dan upacara tersebut dilaksanakan dengan empat tahap: tahap midodareni, kirab,nyembelih pengantin, sugeng ageng.
Peserta kirab dibagi menjadi tiga: pra kirab, kirab adat, kirab penggembira. Tujuannya untuk nyelamati (mendo’akan) ki wirasuta dan nyi wirosuto, serta menyedekahkan sebagian hasil panen mereka untuk bersama Dan sebelum upacara nyembelih bekakak pengantin, ada ritual khusus semacam mujahadahan dan tahlilannya juga.


Trulyjogja. Com
(N-4)sulis@mediaindonesia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar